Postingan

12 Februari

Karyawan pos, Heri dan bapak itu telah menjadi saksi kisahku hari ini. Kisah yang menambah catatan peristiwa memalukan di memori otakku, Heri mungkin juga. Kami bukannya malu karena jatuh di selokan, salah panggil orang, atau tanpa sengaja menabrak kaca ketika jalan. Selalu saja setiap ingin mengirim naskah, ada-ada saja kejadian membekas. Pernah, di situasi sama, kami pun harus menggigit jari. Naskah telah terkirim, tapi lembar perizinan pengganti kartu siswa yang nyatanya lebih penting daripada naskah itu tertinggal, padahal hari itu adalah deadline . “Di kantor pos saja, dek..” “Disana lebih murah” Kami telah menjumpai beberapa masalah sebelum berangkat, tak disangkanya kami bertemu lagi di perjalanan, tepatnya di perempatan jalan sekitar nol kilometer dari sekolah. Izin keluar asrama bagi kami, sama seperti mengurus SIM bagi kau. Kami harus menyetor kertas dengan nama kami tertera sebagai “peminta izin” disertai nama pembina kami sebagai “pemberi izin”. Kendaraan, kadang ...

Mendeskripsikan Tabel

Angka dan Kata Aku benci angka. Pasalnya orang-orang lebih menyukai angka daripada kata. Semisal, siswa ketika disuruh menulis “dua ratus tiga puluh tiga” pastilah mereka cenderung menulis “233” dari pada kata demi kata. Sebagai seseorang yang bercita-cita menjadi penulis, aku tidak suka jika kata dapat digantikan oleh angka. Tak bisa kubayangkan orang-orang kantoran sana terus berkutit di depan computer dan melototi angka-angka baik dalam bentuk tabel, grafik, maupun diagram. Tapi sekarang aku diperhadapkan dengan tabel hasil produksi pertanian. Aku ditugasi untuk membaca, mendalami dan mengata-ngatai angka yang sebenarnya tak butuh kata. Maka inilah kesempatanku untuk membuktikan bahwa kata sekalipun panjang juga bisa menggantikan angka yang hanya memuat hal mutlak. Tapi sekali lagi, sudah sangat jelas, bukan? Bahwa pada tahun 2000 itu, hasil pertanian padi ada 5 kw/ha dan jagung 4 kw/ha. Setahun setelahnya, petani padi dan jagung ternyata harus puas dengan hasil yang sa...

Contoh Surat Pribadi

  Pinrang, 5 Januari 2016 Kepada: Kawanku tercinta, Syarifah Al-Mukarramah di Makassar Kalian membela yang bayar, kami membela yang benar … dan penggalan puisi Taufik Ismail itu adalah ungkapan salam rindu untukmu, Kawan.. Bagaima kabarmu di awal 2016 ini? Lama kita tak berjumpa. Saking lamanya mungkin kau sudah lupa rupa wajahku. Tapi kawan, mengingatmu aku tiba-tiba membenci jarak dan waktu. Mereka telah memisahkan kita mau tak mau. Tapi bukan berarti mereka dapat memisahkan persahabatan kita. Masikah kau ingat, Kawan? Dahulu kita pernah berbagi nasi, berbagi roti , berbagi kasur dan berbagi selimut. Kita pernah terjaga hingga hampir pukul tiga karena dengar musik, me- retail drama tv dan peristiwa unik. Dasar anak asrama. Berbicara tentang asrama, ternyata aku terlanjur suka dengan seluk beluk kehidupannya. Sehingga jenjang selanjutnya, aku memilih menjadi anak asrama,   SMA Negeri 11 Unggulan Pinrang. Di sekolah ini, aku harap kesan unggul itu akan tu...