12 Februari
Karyawan pos, Heri dan bapak itu telah menjadi saksi kisahku hari ini. Kisah yang menambah catatan peristiwa memalukan di memori otakku, Heri mungkin juga. Kami bukannya malu karena jatuh di selokan, salah panggil orang, atau tanpa sengaja menabrak kaca ketika jalan. Selalu saja setiap ingin mengirim naskah, ada-ada saja kejadian membekas. Pernah, di situasi sama, kami pun harus menggigit jari. Naskah telah terkirim, tapi lembar perizinan pengganti kartu siswa yang nyatanya lebih penting daripada naskah itu tertinggal, padahal hari itu adalah deadline . “Di kantor pos saja, dek..” “Disana lebih murah” Kami telah menjumpai beberapa masalah sebelum berangkat, tak disangkanya kami bertemu lagi di perjalanan, tepatnya di perempatan jalan sekitar nol kilometer dari sekolah. Izin keluar asrama bagi kami, sama seperti mengurus SIM bagi kau. Kami harus menyetor kertas dengan nama kami tertera sebagai “peminta izin” disertai nama pembina kami sebagai “pemberi izin”. Kendaraan, kadang ...