Postingan

Bertahanlah! Badai Pasti Berlalu~

Gambar
Tugas saya di rumah ialah, mengurusi per pakaian an. Saya tidak tahu sejak kapan peraturan itu ada di keluarga saya, bahwa setiap pakaian, dari yang terluar hingga terdalam, kecil maupun besar, sebelum masuk lemari, harus disetrika terlebih dahulu. Sudah setahun lebih tante yang biasa melakukan pekerjaan rumah di rumah saya berhenti. Silih berganti kami mencari pengganti, dan saya dan kakak pun bagi tugas mengisi kekosongan itu. Tapi pada kondisi normal, sudah ada kok yang bersedia. Namun,  mumpung saya dan kakak ada di rumah, si mba-nya dipulangkan dulu, dengan begitu masing-masing kami bisa berpuasa di lingkungan rumah masing-masing, tanpa ada orang asing. Tugas saya di rumah ialah, mencuci dan menyetrika. Tapi sebenarnya tidak sesederhana itu. Saya harus memastikan pakaian yang terjemur kering, yang berarti saya harus bolak-balik dari jemuran di belakang rumah, ke jemuran atas (di lantai dua), untuk distribusi pakaian agar bisa disetrika tepat waktu. Lagipula, jemuran puny...

Eksklusif: Bincang Damai Bersama Konflik*

Gambar
*Apa yang tertulis di bawah ini merupakan refleksi dari PLC #11, dengan judul  Nature of Conflict . Moderator :  Selamat pagi Pembaca yang Budiman, saya ucapkan selamat datang di laman ini. Saya moderator merasa sangat antusias—dan saya yakin Pembaca Sekalian pun begitu. Sebab kita kedatangan tamu spesial, dia datang dari dimensi waktu dan ruang yang tak disangka-sangka.. Kita sambut, Tuaaan Konflik!  Apa boleh saya memanggil Anda “Tuan”? Tn. Konflik : Oh ya silakan saja. Halo.. Moderator : Aduh Tuan Konflik, kami bersyukur sekali nih Anda berkesempatan hadir di Bincang Damai kali ini. Jadi, untuk beberapa menit ke depan Tuan cukup jawab saja pertanyaan dari saya. Apa itu jelas? Tn. Konflik : Oh iya, jelas. Sila dilanjutkan, Moderator. Moderator : Oke, langsung saja ya. Pertama-tama, coba deskripsikan dulu diri Anda, Tuan. Tn. Konflik : Iya. Saya yakin tanpa saya jelaskan pun, para Pembaca yang Budiman pasti tahu siapa saya. Bahkan bis...

Bahkan Perang Sekalipun Ada Manfaatnya

Gambar
Salah satu hal saya senangi selama mengikuti Peace and Leadership Class -nya KITA Bhinneka Tungga Ika, ialah saya diajak untuk memikirkan hal-hal yang sebelumnya tidak terpikirkan sama sekali. Misalnya, pertanyaan ini: Apakah perang itu baik? Ayolah, who cares ? Tapi oh tapi, ternyata pengetahuan saya masih sangat-sangat kerdil dalam memahami fenomena alam dan sosial di semesta ini. Ya, untuk menganggap war is worst ternyata tidaklah tepat. Meskipun ada nyawa yang meregang, kehancuran di mana-mana, nampaknya Tuhan kita benar-benar pandai menyelipkan suatu nikmat di balik bencana. Saya kadang takjub setakjub-takjubnya membayangkan kendali Tuhan dalam mengatur seluruh jagad raya beserta isi-isinya ini. Kita yang mengatur kegiatan untuk puluhan atau ratusan orang saja sudah sangat kewalahan. Masya Allah.. Oke, kembali ke laptop. Materi PLC #10 kemarin, sepertinya akan menjadi salah satu kandidat kuat, kalau saja saya disuruh memilih materi PLC mana yang paling disukai. P...

Cerpen: Bila Badi Mati, Itu Bukan Salah Kami

K ami dibakar amarah. Tidak pernah sekalipun di kampung kami, terjadi pembunuhan sadis seperti itu. Kami selalu saling menghormati, menghargai, dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, dengan damai. Tentulah Badi yang salah. Orang seperti dia memang tidak usah dibiarkan hidup. Bisa-bisa warga setempat banyak yang pindah kampung, kalau ada uang. Kalau tidak ya, mungkin tidak berani lagi keluar rumah. Kami justru menyelamatkan nyawa orang banyak. Mana bisa membunuh kembang desa cantik nan perawan dimaafkan? Syekiah bahkan sudah terima lamaran Jauhari untuk menikah bulan depan. Sungguh malang. Hanya ingin mencuci di kali seberang, dia harus meregang nyawa, dengan keadaan perawan. Eh bisa jadi sebelum dibunuh, si Syekiah di- sentuh dulu sama Badi. Dulu kan, waktu masih waras, si Badi juga mati-matian kejar Syekiah. Kata orang sih, mereka sebenarnya suka sama suka. Hanya saja, Syekiah menolak karena tidak mau ditinggal tatkala Badi kuliah lagi di ibu kota. Badi itu ganteng...

HIDUP YANG TIDAK PERNAH DIRENUNGI, TIDAK LAYAK DIPERJUANGKAN*

Gambar
* Socrates (470 SM - 399 SM) Saya mengutip perkataan perkataan Socrates sebagai judul dari tulisan ini, karena ya, itu salah satu quotes yang paling teringat. Hum, entah ingin mulai dari mana. Yang jelas, materi kemarin terasa sekali berat(?)-nya. Haha, bukan karena disuruh berhitung bilangan berpangkat, melainkan karena kita diajak berpikir secara mendalam. Misalnya saja, di awal materi kami—para GoP ditanya, “Yang mana yang dimaksud Wiwi?”, “Namamu itu melekat pada apa?” Jleb. Saya sih memang sering mendengar pertanyaan ini dari orang-orang yang interest dengan filsafat. Tapi sejujurnya, saya malas membahasnya. Mencari tahu Wiwi itu “apa”-nya dari saya, terus kenapa saya hidup, saya bertuhan karena betul-betul yakin atau nurut kepercayaan orang tua.. dan banyak pertanyaan lain, yang apa yah? Mengjengkelkan? Itu seperti Kau setiap hari melewati Jalan Borong Raya, lalu kau ditanya, Borong itu apa? Haha. Sampai kemudian pemateri mengutip perkataan itu. “ Hidup yang tid...

THE MEANING OF FRIENDSHIP TO ME

Gambar
Arti pertemanan bagi saya, ialah, hmm mungkin akan sedikit berlawanan dari kebanyakan orang. Pertama, saya percaya bahwa setiap orang itu sendiri. Saya belajar mencintai seperlunya, dan benci seperlunya. Toh, orang yang paling peduli pada kita sekalipun akan menemui ajal, tidak usah terlalu bergantung padanya, tapi kita bisa saling mengandalkan. Ya, teman bukanlah seorang yang saya tuntut selalu ada kapan pun saya butuh. Melainkan orang yang bisa kita andalkan pendapatnya, nasehatnya, dukungannya.. Boleh dia ada di saat kita senang, sedih, tapi tidak perlu SELALU ada. Setiap orang punya urusan masing-masing, kan? Kedua, teman—menurut saya, bukanlah replikasi diri. Awalnya saya berpikir bahwa jika berteman, maka setidaknya kita harus punya hobi dan pembahasan yang sama. Tapi semakin ke sana, rasanya tidak benar juga. Saya masih punya beberapa nama (baca: teman) yang meskipun kecenderungan kami berbeda, komunikasi tetap jalan. Di situlah justru letak keakraban kami, saling bercerit...