Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

Terlalu Panjang untuk Dibaca...

Rabu, 4 Maret 2020 Sebuah surat.*                                                              Untuk siapa saja Dari Kota Makassar 90233 Selamat malam, semoga Tuhan terus melimpahi kita dengan rahmat. Haruki Murakami, pernah berkata dalam bukunya, What I Talk About When I Talk About Running , bahwa dia lebih suka berinteraksi dengan uncertain readers di luar sana, ketimbang orang-orang dalam hitungan nyata di kehidupannya. Dan kurasa aku juga begitu. Aku suka bercerita, tapi tidak kepada orang-orang yang kukenal atau mengenalku. Itulah mengapa agak sulit untuk memberi nama pada penerima surat ini. Maka, silakan baca saja dan anggap kita tidak saling kenal (pun karena sesekali aku akan bercerita tentang diriku sendiri). Kira-kira sebulan yang lalu, aku mulai terlibat di yayasan KITA Bhinneka Tunggal Ika (singkatnya panggil saja KITA). Sebuah yayasan yang bergerak dalam pendidikan perdamaian dan anti kekerasan. Sudah lama sebenarnya aku mengenalnya. Tetapi, berkat r

Selain Cinta, Impian adalah Hal yang Paling Membuat Galau Kaum Muda

Gambar
Yap. Setidaknya itulah yang saya simpulkan dari memandang diri saya sebagai remaja yang beranjak dewasa. Begitu pula teman-teman saya, adik kelas saya, laki-laki maupun perempuan. Sewaktu SMA kemarin, di pantry dan mushollah—pada bukan waktu sholat, sering saya dan beberapa teman berkeluh kesah tentang kebimbangan ingin masuk ke jurusan mana, universitas apa. Dan setelah masuk universitas lagi, sering juga saya dan beberapa teman bingung sendiri. Memangnya masuk jurusan ini karena apa ya? Terus, kalau lulus nanti mau kerja di mana? Dan seterusnya, dan seterusnya. Rabu kemarin (25 Maret), saya cukup terkejut mengetahui bahwa materi PLC ketujuh ini berjudul: Do You Know Your Dream ? Haha. Apasih . Saya sebenarnya menghindari topik-topik seperti ini. Bukannya karena tidak punya mimpi, justru saking banyaknya mimpi saya, saya belum menyisihkan waktu untuk memilahnya. Agar fokus, agar terarah dan tidak tergoda lagi dengan mimpi-mimpi orang lain. Meskipun saya ini suka sekali bere

Naluri: Review Novel "Penguasa Lalat" oleh William Golding

Gambar
Efek #dirumahaja, saya iseng mengikuti sebuah  challenge . Tantangannya adalah membaca buku selama dua minggu, dan menuliskan kesan terhadap buku itu. Hmm, saya memang selalu punya buku untuk dibaca sih.  I mean , setiap satu novel selesai, saya pasti segera mencari bacaan lain. Tapi, di hari-hari normal, saya sedikit sekali meluangkan waktu untuk membaca tok saja—sampai buku itu tamat. Saya hanya membawanya kemana-mana, agar setiap penantian (menunggu dosen, teman diskusi, antrian, internet yang lambat, dll), jeda antar kegiatan, atau saat lagi  pengen  saja, barulah saya buka bukunya. Tapi karena sekarang bisa dibilang masa di mana terlalu banyak waktu kosong, jadi ya memang saya harus punya target menyelesaikan baca bukunya berapa hari. Termasuk  Penguasa Lalat  ini. Buku yang sebenarnya tidak akan saya beli jika melihatnya di pajangan  Gramedia  atau toko buku lain. Saya tidak tahu penulisnya,  cover  tidak begitu menarik—begitupun judulnya, serta sinopsis di balik buku pun

Seputar KITA dan Istilah-Istilah yang Akan Sering Kau Dengar

Gambar
Sebelum mulai bercerita, saya ingin mengajak Pembaca Sekalian mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada tenaga medis, bapak/ibu ojek online , penjaga warung, minimarket dan supermarket, petugas keamanaan, petugas kebersihan, dan profesi lainnya yang masih harus bekerja—keluar rumah di saat seperti ini. Jika kebetulan Pembaca Sekalian datang dari masa depan—eh, maksud saya sepuluh atau 20 tahun sejak 2020 ini dan tidak tahu kondisi seperti apa yang saya maksud, saya akan jelaskan sedikit. Ini tentang sebuah bencana pandemi. Penyakitnya disebut Covid-19 ( Corona Virus Disease 2019)—yang bisa dilihat dari namanya—dibawa oleh virus corona. Nama asli virusnya dalam istilah medis mungkin tidak sesederhana itu. Tetapi, yang diingat oleh semua orang, termasuk kami-kami yang awam virologi atau ilmu kesehatan terkait, ya itu: Virus Corona. Asal virus ini—katanya dari sebuah pasar hewan di Wuhan, Provinsi Hubei, China, yang diungkap pertama kali Desember 2019. Perjalananny

Tentang #Respect dan Ucapan Selamat Datang Sebelum Itu

Wah, ini adalah tulisan pertama saya selama 2 tahun lebih. Saya ingat, dulu, blog ini ada karena guru Bahasa Indonesia saya mewajibkan kami memiliki blog, dan dia sangat mewanti-wanti bahwa jika ingin jadi penulis, latihanlah memperkenalkan tulisan melalui blog ini. Saya sebenarnya salah seorang pemalu, yang tidak ingin tulisan saya dibaca khalayak, terutama oleh orang yang kenal saya, dan saya kenal. Sebaliknya saya merasa legowo saja bila tulisan ini dibaca oleh orang asing, yang siapa tahu saja—karena suatu hal—tidak sengaja menemukan blog saya. Meskipun agak kecil kemungkinannya. Hmm. Dalam dua tahun ini, banyak sekali yang berubah. Iya, kan? Termasuk perubahan tulisan saya, yang awalnya sering sekali pakai “aku”, menjadi sedikit tidak nyaman kecuali memakai “saya”. Biasanya saya   menulis esai atau artikel karena tuntutan tugas, alih-alih karena saya menyukainya seperti cerpen. Tetapi sekarang, sudah agak kaku mengarang cerita, karena terbiasa menulis fakta, realita, d